Perjuangan! Pengalaman Pertama Mengikuti Event Lari Borobudur Marathon

Bank Jateng Borobudur Marathon adalah satu-satunya event lari yang menjadi target untuk saya ikuti tahun ini. Maklum lah, saya kan baru benar-benar menyukai olahraga lari sejak bulan Januari kemarin. Sebagai pemula saya baru berani mencoba kategori 10k dalam event yang diselenggarakan di Magelang, 19 November 2017 ini. Lari sakuate, lari sasenenge sebab bisa dibilang saya hanya bagian dari tim hore ๐Ÿ˜€

Berbagai macam persiapan sudah saya lakukan jauh-jauh hari. Terutama latihan lari agar bisa finish strong di Bank Jateng Borobudur Marathon 2017 nanti. Awalnya lari 2 kali perminggu, semakin dekat dengan hari H menjadi 3-4 kali perminggu. Hari-hari biasa cuma 3-3,5 km dan hari minggu mencoba untuk long run. Saya menikmati latihan-latihan ini.

Sayang, rencana tak selalu mulus dan tak selalu lancar seperti jalan tol. Sebulan sebelum BJBM2017 berlangsung saya tidak bisa latihan lari lagi. Saya harus pergi ke Bogor karena sesuatu hal. Selama hampir sebulan di sana saya sama sekali tak ada waktu untuk lari. Saya baru kembali ke Kebumen 4 hari sebelum event berlangsung. Pasif selama sebulan membuat saya berfikir apakah saya mampu menyelesaikan lari 10k di borobudur marathon dengan waktu 60 menit?

Registrasi

Mendengar kabar registrasi online telah dibuka, saya segera mendaftarkan diri di borobudurmarathon.co.id. Kebetulan waktu itu masih harga early bird yaitu diskon 30% dengan memasukkan kode kupon BJBM2017. Jadi saya cukup bayar 140ribu untuk kategori 10k yang harga normalnya 200ribu. Lumayanlah bisa hemat 60ribu ๐Ÿ™‚

Panitia Borobudur Marathon juga menyediakan shuttle bus bagi peserta yang tidak membawa kendaraan pribadi. Tiket dapat dipesan mulai 21 Oktober lalu. Berhubung tidak hafal jalanan Magelang saya memilih untuk naik shuttle bus. Hanya peserta terdaftar yang boleh ikut shuttle bus ini dan dikenai biaya sebesar 15ribu rupiah untuk pulang pergi. Ada 4 titik penjemputan yaitu di Artoz Mall Magelang, TVRI Yogyakarta, Taman Parkir Abu Bakar Ali Malioboro dan Plaza Ambarukmo. Taman Parkir Abu Bakar Ali Malioboro adalah titik jemput yang paling dekat dengan tempat menginap saya.

Racepack Collection

Racepack Borobudur Marathon mulai dibagikan sejak H-3. Namun saya baru mengambilnya di H-1 agar pulang nanti bisa langsung ke Jogja untuk menginap di sana. Bak seorang pendekar, saya berangkat seorang diri dari Kebumen menuju Magelang. Tanpa seorang teman, tanpa seorang kekasih :mrgreen:

Setelah ยฑ2 jam perjalanan menggunakan bus sampailah saya di depan Grand Artos Aerowisata Hotel, tempat pengambilan racepack. Begitu masuk sudah terasa aura kemeriahan acara wisata olahraga tahunan Bank Jateng Borobudur Marathon 2017 yang akan digelar esok hari. Tanpa antrian saya langsung terlayani dan mendapat racepack berisi race tee/jersey, nomor BIB serta produk-produk dan brosur dari sponsor.

Racepack BJBM2017

Saatnya Berjuang di BJBM2017

Shuttle bus berangkat dari taman parkir Abu Bakar Ali Malioboro menuju Borobudur tepat jam 2 malam. Perjalanan malam yang lancar mengantarkan kami peserta Borobudur Marathon hanya dalam waktu 1 jam. Sekitar jam 3 dini hari shuttle bus sudah sampai di area parkir candi Borobudur. Rupanya masih sepi, belum banyak orang yang datang. Mungkin masih terlalu malam mengingat start paling awal adalah jam 5 pagi untuk kategori full marathon (42k). Sedangkan untuk half marathon (21k) akan start jam 5.30 dan terakhir kategori 10k jam 6 pagi.

Usai azan subuh suasana mulai ramai. Para peserta berdatangan menuju Taman Lumbini Candi Borobudur, tempat digelarnya acara akbar ini. Terlihat barisan 10k adalah yang paling banyak pesertanya. Mendung nan gelap terlihat menyelimuti langit Magelang, sepertinya akan turun hujan sebentar lagi. Tepat pukul 06.00 start untuk kategori 10k dimulai.

Awal-awal saya tidak bisa lari karena berdesakan dengan peserta lain, kadang jalan, kadang lari kecil. Di km pertama menit keempat saya lihat di depan ada sosok nomor 1 di Jawa Tengah. Pak Ganjar Pranowo ikut lari berbaur bersama peserta 10k lain. Tak mau kehilangan momen langka ini saya minta foto bareng beliau. Sayang, ketiga gambar yang saya ambil hasilnya blur, gak ada yang jelas sama sekali.

Lanjut lari mengikuti rute race menuju jalanan umum yang sengaja ditutup demi kelancaran Borobudur Marathon. Melewati perkampungan sekitar candi Borobudur. Sepanjang rute, di pinggir-pinggir jalan banyak warga sekitar yang begitu antusias menyaksikan dan ikut meramaikan acara tahunan ini. Berbagai macam pertunjukan seni budaya setempat disuguhkan. Tua-muda, pria-wanita, semua memberi semangat untuk para pelari. Di setiap sudut dan persimpangan jalan ada team marshall yang memberi petunjuk agar kami tetap berada pada rute yang benar.

Saya lari dengan pace yang mulai stabil hingga sampailah saya pada water station pertama di km 2,5. Di sinilah kesalahan terjadi. Segelas air mineral yang diberi saya habiskan tanpa sisa. Dampaknya di km 3 perut mulai terasa pegah. Sesak sekali. Rasanya ingin berhenti dan menyerah. Tapi mengingat perjuangan saat latihan hingga bisa hadir di sini membuat semangat itu muncul kembali. Saya lari dan terus berlari.

Di km 5 saya temui water station kedua. Kali ini saya ambil gelas yang berisi minuman isotonik. Hanya seteguk air yang saya minum agar tak terulang seperti di km 2,5. Semakin jauh jarak lari yang di tempuh, semakin terlihat keseruan Borobudur Marathon. Adik-adik dari sekolah-sekolah yang dilintasi turut memberi semangat. Ada drumband, ada tari-tarian, ada juga yang hanya sekedar menyerukan yel-yel. Pokoke seru banget mbok, 10 jempol buat kalianโ€ฆ ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

Di km 7 lintasan mulai naik turun. Tapi tak terlalu ekstrim karena kemiringan tanjakan dan turunannya belum begitu tinggi. Di km 7 peserta akan melintasi sebuah persawahan. Di sebelah kiri persawahan itu nampak keindahan candi Borobudur dari kejauhan. Pemandangan yang cukup keren dan cocok buat foto-foto. Tapi sayang saya tak sempat ambil foto di sana karena sejak memasuki km 7 hujan mulai turun, lebih baik saya segera menyelesaikan race ini supaya tidak kelamaan kena air hujan.

Di km 8 dan km 9 saya mulai kelelahan. Lutut yang pernah cidera terasa lagi. Mau nyerah gak mungkin, garis finish sudah di depan mata. Alhasil saya lebih memilih untuk terus berlari dengan diselingi jalan cepat. Tak terasa akhirnya saya sampai di garis finish. Medali finisher 10k pun dikalungkan ke leher sebagai bukti bahwa saya sudah menamatkan race ini.

Akhirnya dapat medali finisher juga

Menurut MyLaps saya berhasil menyelesaikan race 10k dengan catatan waktu 1 jam 8 menit 41 detik. Memang masih tertinggal jauh dari target saya yang ingin menyelesaikan dalam waktu 1 jam. Tapi bagi saya ini sudah cukup memuaskan, melihat kondisi start awal yang tak bisa lari dan sebulan sebelumnya yang tanpa latihan. Semoga tahun depan ada perbaikan waktu kalau saya ikut kategori 10k lagi. Atau mungkin saya akan memilih ikut half marathon? Hmmmโ€ฆ

Kesan Mengikuti BJBM2017

Ini adalah event lari pertama saya. Menurut saya Bank Jateng Borobudur Marathon 2017 terselenggara dengan sangat apik. Mulai dari registrasi, informasi, racepack collection, shuttle bus, rute lari, hingga berakhirnya BJBM2017 semua tertata rapi dan jelas. Untuk seorang yang masih awam seperti saya, saya mengatakan panitia BJBM2017 berhasil. Tidak ada keluhan yang berarti dari saya. Cuma saya berharap tahun depan di toilet portabelnya disediakan air, karena tidak semua orang nyaman bebersih dengan tisu. Selebihnya Mantap!!!

2 Orang Baik

Saya senang bisa mengikuti wisata olahraga BJBM2017 yang mengusung tema utama Reborn Harmony atau Tumbuh Kembali dalam Keselarasan, hingga saya bisa membawa pulang medali penamat. Semua itu tak lepas dari bantuan 2 orang sahabat saya. Siapakah mereka?

Orang pertama bernama kang Cahyo. Dengan sepeda motornya dia mau jauh-jauh mengantar saya dari Magelang ke Jogja. Awalnya dia bilang cuma mau mengantar sampai jalan yang ada bus jurusan Jogja. Tapi ternyata saya diantar sampai ke terminal Jombor yang letaknya cuma 4 km dari tempat saya menginap. Saat di perjalanan saya diberitahu pertigaan yang menuju rumahnya. Dan ternyata jarak pertigaan itu ke terminal Jombor jauh banget. Jadi pas pulang kang Cahyo ini harus puter balik berkilo-kilo meter.

Orang kedua adalah Habib. Dia teman sekelas saya waktu sekolah sekaligus saudara seperjuangan sewaktu mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian di Cikarang dulu. Belum bosan meski sudah 12 tahun berteman ๐Ÿ˜† Habib ini yang memberi tumpangan saya selama 2 malam di Jogja. Dia rela bangun jam 1.30 malam untuk mengantar saya ke malioboro biar gak ketinggalan shuttle bus. Tak hanya itu, saya juga nebeng waktu pulang ke Kebumen karena kebetulan dia mudik pas libur kerja.

Okelah, sebagai penutup saya ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada kang Cahyo dan Habib atas bantuannya. Gak kebayang ceritanya akan jadi seperti apa kalau tidak ada kalian. Semoga kebaikan dan perlindungan dari Tuhan selalu menyertai dimanapun kalian berada. Dan semoga pula kalian membaca postingan ini ๐Ÿ™‚ Pokoke kalian kaya kie mbokโ€ฆ ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

Tentang Marjono 47 Articles
Blogger asal Kebumen. Udah gitu doang.hehe...

2 Comments

    • Target melu maneh mas, tapi sayange gak kebagian slot. Nunggu diskon kemerdekaan koyo tahun 2017 malah gak ono, pendaftaran harga biasapun wis tutup. Terpaksa tahun iki cukup mantau gak iso melu lari nang Borobudur Marathon ๐Ÿ˜ฅ

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*