Pengalaman Menonaktifkan BPJS Kesehatan karena Meninggal Dunia

Menonaktifkan kepesertaan BPJS Kesehatan anggota keluarga yang telah meninggal dunia adalah hal yang wajib kita lakukan. Sebab jika tidak, premi bulanan akan terus ditagihkan meski pesertanya sudah tidak ada. Semakin cepat dilakukan penonaktifan maka akan semakin baik.

Untuk saat ini menonaktifkan BPJS Kesehatan karena pemiliknya meninggal dunia baru bisa dilakukan dengan cara mendatangi kantor BPJS Kesehatan terdekat. Semoga kedepannya bisa secara online baik melalui web maupun aplikasi Mobile JKN. Walau ujung-ujungnya harus datang ke kantor BPJS Kesehatan untuk pengembalian kartu, yang penting kepesertaan sudah nonaktif terlebih dahulu agar tidak ada tagihan iuran di bulan berikutnya. Ini sangat bermanfaat bagi peserta yang memiliki anggota keluarga meninggal dunia tapi belum sempat melapor untuk beberapa waktu yang cukup lama.

Pertengahan bulan Mei kemarin ibu saya meninggal di rumah sakit. Tentu kalian bisa membayangkan apa yang saat itu saya rasakan, bukan? Sedih karena orang yang paling saya sayangi telah pergi dan takkan kembali untuk selamanya, menyesal karena sampai kepergian beliau saya belum bisa membahagiakan dan memenuhi semua permintaannya. Kala itu saya hanya bisa menangis melepas kepergiannya. Dan yang paling susah adalah saya harus menerima kenyataan bahwa mulai saat itu saya sudah tidak bisa bertemu dengannya lagi. Andai saja waktu bisa ku putar kembali 😭

Karena pikiran yang masih belum tenang, waktu yang mepet dengan bulan Ramadhan, ditambah jarak dari rumah ke kantor BPJS Kesehatan yang cukup jauh (± 22 km) akhirnya saya putuskan untuk melapor setelah lebaran saja. Resikonya mau tidak mau saya harus membayar premi bulan Juni dan Juli milik almarhumah ibu, kalau tidak dibayar premi BPJS Kesehatan saya dan bapak juga tak bisa dibayar.

Usai lebaran pikiran sudah mulai tenang walau masih belum benar-benar percaya kalau ibu sudah tiada. Perkiraan jalan sudah sepi dari arus balik lebaran, saya pergi ke kantor BPJS Kesehatan untuk melapor agar kepesertaan ibu dinonaktifkan. Berkas yang saya bawa diantaranya kartu BPJSKES yang asli, fotokopi surat kematian, fotokopi KTP ibu, bukti pembayaran BPJS Kesehatan bulan Juli dan fotokopi kartu keluarga.

Sampai di kantor BPJS Kesehatan, sebelum ambil nomor antrian saya disuruh mengisi formulir coklat. Di bagian bawah formulir tersebut ada kolom untuk diisi data peserta yang meninggal. Kalau tidak salah saya hanya mengisi nama, nomor peserta dan tanggal lahir ibu. Setelah formulir terisi, saya segera mengambil nomor antrian.

Hari itu antrian tak begitu ramai. Baru duduk menunggu beberapa menit nomor antrian saya sudah dipanggil. Segeralah saya menuju customer service. Dengan ramah saya disambut sapaan khas ala CS “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” Saya menjelaskan maksud dan tujuan datang kesana sambil menyerahkan fotokopi surat kematian dan kartu BPJSKES asli milik ibu.

CS melakukan penonaktifan, lalu menyerahkan secarik kertas kepada saya sebagai bukti bahwa kepesertaan BPJS Kesehatan ibu saya telah dinonaktifkan pada hari itu dengan alasan meninggal dunia. Semua sudah beres, kartu BPJSKES yang asli ditahan dan saya pulang. Sewaktu diparkiran saya iseng mengecek status kepesertaan ibu melalui aplikasi Mobile JKN dan hasilnya seperti gambar di bawah ini.

Pengalaman menonaktifkan BPJS Kesehatan karena meninggal dunia

Mungkin teman-teman yang membaca tulisan ini bertanya-tanya kenapa yang diserahkan ke CS hanya fotokopi surat kematian dan kartu asli BPJSKES saja? Bukankah syarat menonaktifkan BPJS Kesehatan karena meninggal tidak hanya itu? Iya betul, kalau kita browsing persyaratannya tidak cuma 2 itu saja. Tapi sewaktu ambil nomor antrian, saya sempat bertanya apa saja syaratnya. Pak satpam menjawab hanya fotokopi surat kematian dan kartu aslinya. Benar saja CS tidak menanyakan berkas/persyaratan yang lain.

Untuk surat kematian, bagi yang meninggal di rumah sakit bisa membawa surat kematian dari rumah sakit atau surat kematian dari kelurahan (pilih salah satu). Sedangkan untuk yang meninggal di rumah sudah jelas harus membawa surat kematian yang dibuat oleh kelurahan. Ibu saya meninggal di rumah sakit tapi saya membawa surat kematian dari kelurahan karena surat kematian yang dari rumah sakit dibawa kakak untuk mengurus ijin cuti di tempat kerjanya.

Sebagai informasi tambahan, tidak ada santunan kematian untuk keluarga peserta BPJS Kesehatan yang meninggal dunia. BPJS Kesehatan hanya menjamin kesehatan dan biaya pengobatan pesertanya selama ada diagnosa medis. Kepesertaan akan tetap aktif dan tagihan akan terus berjalan setiap bulannya selama belum melaporkan kematian ke kantor BPJS Kesehatan.

Demikian tadi sedikit cerita pengalaman menonaktifkan kepesertaan BPJS Kesehatan karena meninggal dunia. Semoga bermanfaat khususnya bagi peserta mandiri. Terima kasih sudah berkenan membaca. Semoga kita selalu diberi kesehatan dan panjang umur. Amin….

Terima kasih telah berkunjung di blog sederhana ini. Jangan lupa ikuti saya di:
facebook: Joncekrek
instagram: @joncekrek
twitter: @joncekrek
Tentang Marjono 21 Articles
Halooo.... terima kasih sudah berkunjung ke blog sederhana ini. Sampaikan saran dan kritikmu melalui akun media sosial saya di bawah ini:

4 Comments

  1. Apa tagihan milik ibu anda harus tetap di bayar? dan tidak di refund atau di bayarkan ke peserta BPJS yg masih aktif? saya mau urus tagihanya udah 300rb sekian.

    • Ibu saya meninggal bulan Mei dan tagihan masih saya bayar hingga bulan Juli. Saat penonaktifan di kantor cabang BPJS Kesehatan (bulan Juli) CS bilang uang yang sudah dibayarkan tidak bisa direfund ataupun dialihkan ke peserta yang masih aktif.

      Untuk mas Avris saya sarankan jangan dibayar dulu tagihannya. Sebaiknya mas Avris segera lakukan penonaktifan kepesertaan anggota keluarga yang meninggal, nanti bisa dibicarakan dengan CS di sana apakah harus dilunasi dulu atau tidak. Sebab ada info kalau tagihan yang wajib dibayar sebelum penonaktifan hanya sampai bulan peserta tersebut meninggal dunia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*