Cara Menghapus Nama Anggota Keluarga di KK karena Meninggal Dunia

Cara Menghapus Nama Anggota Keluarga di KK karena Meninggal Dunia
Kartu Keluarga

Setiap ada perubahan data tentang susunan, hubungan dan jumlah anggota keluarga, sebisa mungkin kartu keluarga harus segera diperbarui. Tujuannya agar semua yang tercatat dalam kartu keluarga sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Tak perlu ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, kartu keluarga bisa dicetak di kantor kecamatan.

Setelah hampir 2 tahun kepergian ibu, akhirnya di awal Februari tahun ini saya memperbarui kartu keluarga kami. Jadilah anggota keluarga yang semula tertulis 3 orang kini hanya tinggal tercatat 2 orang saja. Ya, sebab pembaruan kartu keluarga yang saya lakukan adalah mengurangi/menghapus nama ibu yang sudah meninggal dunia.

Bagaimana sih cara mengurangi/menghapus nama anggota keluarga dari kartu keluarga karena meninggal dunia? Apa saja syarat yang dibutuhkan? Apakah pencetakan kartu keluarga yang baru bisa jadi dalam sehari? Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas simak tulisan di bawah ini tentang pengalaman saya saat memperbarui kartu keluarga kemarin.

Untuk memperbarui kartu keluarga karena ada yang meninggal dunia, dibutuhkan beberapa syarat yaitu:

  • Kartu Keluarga lama,
  • Akta Kematian (saya cuma menggunakan Surat Keterangan Kematian dari desa/kelurahan),
  • Formulir permohonan KK dari desa/kelurahan.

Kartu keluarga lama jelas sudah ada, begitupun dengan surat keterangan kematian ibu saya masih tersimpan di lemari. Jadi saya tinggal membuat formulir permohonan KK di kelurahan. Hari Kamis usai waktu sholat isya’, saya pergi ke rumah ketua RT untuk meminta surat pengantar perubahan kartu keluarga. Dilanjut ke rumah ketua RW untuk minta stempel dan tanda tangannya.

Keesokan harinya, sekitar pukul 08.30, sepeda motor saya jalankan menuju kantor balai desa. Tak lupa saya membawa kartu keluarga yang lama, fotokopi surat keterangan kematian serta surat pengantar dari RT yang sudah saya buat semalam. Rupanya masih sepi, saya hanya menunggu 1 antrian saja. Tak berapa lama saya dilayani, formulir permohonan kartu keluarga sudah di tangan dan siap dibawa ke kantor kecamatan.

Tak mau banyak membuang waktu, saya segera pergi ke kantor kecamatan. Hampir sama seperti di balai desa, belum ada antrian yang berarti di sini. Terlihat hanya beberapa orang saja yang berada di depan loket pelayanan kartu keluarga dan KTP. Hingga tiba giliran saya dilayani, semua syarat pembaruan kartu keluarga saya serahkan ke petugas dan saya kembali duduk menunggu.

Kurang dari 10 menit menunggu, nama ayah saya (sebagai kepala keluarga) dipanggil, itu artinya petugas memanggil saya. Saya diberi selembar kertas setipis kertas HVS yang isinya serupa dengan kartu keluarga. Ternyata kertas itu hanya salinan KK, bukan KK baru yang asli karena kebetulan blangko KK sedang kosong. Blangko KK akan tersedia pada hari Senin dan saya disuruh menukarnya di hari itu.

Hari Senin sekitar pukul 9.30 saya kembali mendatangi kantor kecamatan. Kali ini tak ada antrian. Saya langsung dilayani dan tak lama kemudian kartu keluarga baru yang asli sudah bisa dibawa pulang.

Ternyata mengurus pembaruan kartu keluarga tak seribet yang saya bayangkan. Padahal sebelum-sebelumnya saya/orang tua saya lebih memilih untuk nitip ke perangkat desa (terima beres), begitupun dengan para tetangga. Tahu pengurusannya yang mudah dan cepat saya jadi merasa telah sangat merepotkan perangkat desa (yang dititipi) karena sebelumnya tak mau mengurus sendiri 😀

Tentang Marjono 48 Articles
Blogger asal Kebumen. Udah gitu doang.hehe...

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*